Tampilkan postingan dengan label Komentar Pembaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komentar Pembaca. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juli 2013

"Kopi, Hujan, Puisi, dan Kamu"

Makasih mbak Aida Vyasa fotonya lagi.

"kopi, hujan, puisi, dan kamu"
(26 mei 2013) reaksi dari puisi Ekohm Abiyasa, yang berjudul 'Malam'
https://twitter.com/aidavyasa/status/350371989833281536/photo/1

Foto Malam Sekopi Sunyi bersanding dengan Taman Sunyi Sekala, Kekasihku yang Lain

Bersanding dengan Taman Sunyi Sekala, kekasihku yang lain.
Balai Soedjatmoko, Malam Minggu, 11 Mei 2013. Foto oleh Aida Vyasa. Link here.
Untuk Malam Sekopi Sunyi (kumpulan puisi Ekohm Abiyasa 2004 - 2012).

#malamsekopisunyi #tamansunyisekala #niskala. Pertama kali baca kata pengantar di Malam Sekopi Sunyi, 'deg' sejenak berhenti degup. Tidak pernah menyangka seseorang akan menganggap sebuah Taman Sunyi sebagai kekasih --teman mengembara. Terima kasih, Ekohm... Tak disangka malam-malam sama-sama dilalui dengan badai kata, kopi, dan tentu saja, sunyi.
Foto oleh Aida Vyasa. Link here.

Selasa, 09 Juli 2013

Berpendar Bersama Pawon Sastra, oleh Indah Darmastuti

Malam Tiga Pendaran adalah salah satu ikhtiar Pawon Sastra untuk menghormati, merayakan dan memberi penghargaan intelektual serta kreatifitas penulis-penulis Solo. Pawon mewadahi, memfasilitasi mencoba memendarkan penulis-penulis Solo dan sekitarnya dengan mengenalkan dan membincangkan bukunya.
Pawon Sastra bekerjasama dengan Balai Soedjadmoko menghadirkan tiga pembicara untuk tiga penyair.  Malam Sekopi Sunyi, antologi puisi tunggal Eko Abiyasa diulas panjang lebar oleh Arif Yudistira. Merapuh, antologi puisi tunggal Nurni Chaniago dibahas lunas oleh Setyaningsih dan Bulan Sabit Petang Hari, antologi Puisi Ngadiyo dibahas tuntas oleh Nimas Dara. Lalulintas obrolan diampu Lasinta Arinendra dengan kata pembuka: “Bagaimana pun, ini adalah hari yang penting.”
Dihadiri sekitar 40 orang. Diawali dengan “Puisi adalah ingatan peristiwa.” Kalimat pendek yang disampaikan oleh Arif saat membahas Malam Sekopi Sunyi. “Bunyi bukan persoalan keindahan, tetapi makna dan pesan lebih menjadikan kopi sebagai puisi.”
Bagi Setyaningsih, ketika membahas antologi puisi Nurni Chaniago: “Merapuh adalah proses panjang. Kata me-rapuh akan mengalami sebuah proses ampuhnya bertahan, kala mengalami kondisi merindu, terluka, menunggu, mengenang atau berharap.
“Keseharian adalah puisi. Puisi tercipta dari mata-mata jeli yang melihat keseharian.” Apresiasi Nimas Dara terhadap kumpulan puisi Bulan Sabit Petang Hari. Sekalipun bagi Nimas, Ngadiyo memiliki bakat bagus sebagai penyair, namun dalam antologi itu, ia menganggap diksi dan bahasa yang digunakan Ngadiyo masih sangat biasa.
Malam dihangatkan oleh pembacaan puisi oleh masing-masing penyair. Ngadiyo, yang mengaku suka menuliskan puisi cinta dan mengangkat tema kehidupan pesantren dan khusyuk-nya membaca Qur’an malam itu membacakan dengan kocak-segar puisinya dengan judul: Kembali Kepada Al-Qur’an.
Saat membacakan puisinya, ia beberapa kali berhenti untuk sejenak memberi penjelasan perihal apa yang ia puisikan. Tak jauh beda dengan catatan kaki yang disertakan pada sebuah teks. Cukup menghibur dan malam menjadi segar oleh tawa. Sempat tertangkap: Astuti, Puitri Hatiningsih, Indah, Rio Johan dan Yudhi Herwibowo tertawa begitu lepas di sela-sela ia memotret, mendokumentasikan acara dengan kamera.
Eko Abiyasa membaca dengan pelan dan sendu sebuah puisi: Mengenang Murtijono (Beliau adalah kepala Taman Budaya Jawa-Tengah yang wafat pada 2012 lalu). Nurni Chaniago membacakan dengan vocal mantab dua puisinya: Memasak Kenangan yang Terlupakan dan Tikam Menikam Perang Keparat.       
Penulis Novel: Astuti Parengkuh, turut membacakan dan memilih puisi Nurni Chaniago yang berjudul: Kuingin Rajah Puisi di Tubuhmu. Dan memilih puisi Ngadiyo berjudul: Ingin Kukecup Cinta Bercahaya di Matamu. Sebuah puisi dengan ending mengejutkan: “Solo, The Spirit of Java”
Dalam diskusi itu, Indah Darmastuti bertanya: apakah motifasi para penyair saat menerbitkan puisi-puisinya dalam satu buku? Sebagai dokumentasi atau adakah hal yang ingin disampaikan secara khusus, atau sekadar menunjukkan eksistensi atau mengesahkan diri sebagai penyair.  Dari tiga penyair, rata-rata memberi pengakuan bahwa buku itu sebagai bentuk dokumentasi, selain ingin mencipta jejak dan menjaga ingatan, mengabadikan peristiwa. Selain pengakuan Ngadiyo bahwa buku puisinya terbit salah satunya karena terinspirasi oleh Lasinta.
Istiqaroh menyampaikan sedikit catatan untuk para pengulas (khusunya untuk Nimas dan Arif). Penyampaian yang tersendat, atau penyampaian yang kurang jelas. Baginya penting seorang pengulas mempresentasikan dengan jelas dan matang meskipun sudah ada makalah yang dicetak untuk dibaca.
Obrolan ditutup oleh Bandung Mawardi, mengulas kecil tentang obrolan dan ajakan moderator untuk: “Mari menulis puisi” yang langsung ia tolak karena ia lebih suka menulis essai.
Lagu sendu dari Toko Gramedia Slamet Riyadi penanda waktunya tutup telah terdengar. Peserta diskusi sempat sejenak mendengarkan dan menikmati. Dan tepat saat itulah, acara Malam Tiga Pendaran yang diadakan di Balai Soejadmoko pada Selasa 2 Juli 2013 pukul 21.30 ditutup.  Semua beringsut, ada beberapa yang meminta tandatangan pada para penyair, ada yang bergegas pulang namun ada juga yang masih berbincang di gelaran tikar.
Satu hal yang sangat dan selalu ingin kami sampaikan: terimakasih untuk Mas Sukidi yang selalu pulang paling akhir dan membuat beres tempat kami berdiskusi. Terimakasih untuk Balai Soejadmoko untuk tempat yang disediakan. Dan untuk para pengulas: terimakasih ilmunya. [ ID ]     

Sumber Pawon.

Senin, 06 Mei 2013

Catatan Pembaca oleh Moh. Ghufron Cholid

Apa yang menarik dari sebuh puisi? Mengapa puisi begitu dekat dan menyapa di hati? Walau penghargaan pada puisi lebih sedikit, puisi akan terus rekah serekah bunga sebab puisi adalah bahasa hati yang barangkali tepat dipilih untuk menyampaikan risalah hati yang kadang tak bisa diucapkan secara lisan.

Barangkali hanya lewat puisi, seseorang bisa lebih berani berkata apa saja, tanpa harus didekte pihak mana pun, barangkali hanya lewat puisi kerinduan, kenangan dan harapan lebih bisa dilukiskan. 

Ekohm Abiyasa, penyair Solo mulai merintis kepenyairannya secara mandiri dalam buku puisinya bertajuk Malam Sekopi Sunyi. Mengapa harus malam, kopi dan sunyi yang dipilih penyair sebagai judul bukunya? Alasan yang lebih tepatnya hanya penyairnya yang lebih tahu dan sebagai pembaca pun kita bebas mengurai lewat kacamata pandang atau pikir sendiri. 

Sebab dalam puisi tak ada tafsir abadi, semakin banyak tafsiran akan semakin kaya tentang keberadaan puisinya. Digugat atau mendapat pujian semua adalah bentuk bahwa karya itu lahir dan mampu mengusik perhatian.

Apalah guna karya bagus namun tak mendapatkan apresiasi, setelah tercipta langsung hilang ditelan masa, serupa kapas yang diterbangkan angin, tak memiliki arah tujuan.

Barangkali menjadi penyair memang bukan sebuah cita-cita yang jarang diungkapkan oleh tiap diri, baik memiliki niat menjadi penyair ataupun tidak, sejatinya Ekohm telah menjadi seorang penyair karena telah melahirkan puisi dari dansa-dansa jemarinya. 

Paling tidak penyair untuk dirinya sendiri, maksimal penyair untuk seluruh alam semesta beserta isinya. Pentingkah lebel penyair itu disematkan? Jawabannya ada pada masing-masing individu, sebab tak semua mau disebut penyair. Sebab tak semua siap dikatakan seorang penyair, barangkali bisa kita pahami, tugas penyair sangat mulia. 

Menebarkan cinta lewat puisi, merampungkan kembali serpihan-serpihan mimpi. Pemberian istilah penyair senior, penyair junior, penyair instan barangkali hanya pengkotakan yang membuat puisi menjadi ruang yang tak menarik lagi, jika tetap mempersoalkan sebuah lebel kepenyairan yang akan diterima. 

Ekohm telah memulai sejarah, Malam Sekopi Sunyi sudah lahir ke tengah-tengah pembaca serupa bayi yang harus diberi nama dan diperkenalkan siapa orang tuanya, walau tak semuanya melakukan. 

Jaman yang serba teknologi memberikan kesempatan pada siapa saja berkarya dan mengaku penyair, terlepas diakui atau tidak seleksi alam yang menentukan, lebih baik berbuat daripada diam menunggu sebuah keajaiban. 

Bersambung..

Sumber note's facebook Moh. Ghufron Cholid

*Moh. Ghufron Cholid - Madura

Kamis, 02 Mei 2013

Komentar dari Lucia Dwi Elvira



Kopi, hujan, puisi dan mantra ajaib
Menuju malam yang ghaib (Ekohm Abiyasa)

Pagi ini saya mendapat kiriman buku puisi 'Malam Sekopi Sunyi' dari pengarangnya sendiri, mas Ekohm.

Dalam buku puisi yang bertema -sesuai judulnya- malam, kopi, dan sunyi membuat pembaca terhanyut dalam jalinan kata-kata yang dirangkai penyair asal Solo ini. Mantap pokoknya.

Di buku ini juga ada beberapa ilustrasi yang cukup ciamik yang ternyata adalah karya saya sendiri. (Narsis mode on) hehehe...

Di antara puisi-puisi yang ada di buku ini, favorit saya adalah Malam (yang saya tulis di pembuka postingan ini), Sekopi, Empat Sajak buat Pemburu Kata dan Pelarung Sunyi (puisi untuk Jeni Fitriasha), Ruh tubuh, dan Sepi Selalu Tahu Cara Mendengungkan Sepi (Puisi untuk saya sendiri #lagi-lagi narsis)

Yang mau tahu bagaimana memikatnya puisi-puisi mas Ekohm dan bagaimana ciamiknya ilustrasi saya segera dapatkan buku ini di Mozaik Indie Publisher. (bantuin promosi :)

Sekian dari saya. Salam SABUDI

Puisi selalu tahu cara mengobarkan sepi, katamu.
Sepi selalu tahu cara mendengungkan puisi, kataku.
(Ekohm Abiyasa)

Kamis, 02 Mei 2013

Sumber Facebook Uchi

*Uchi - Gresik, Jawa Timur