Jumat, 29 November 2013

Penyair Kudus dalam Malam Sekopi Sunyi

Tahun 2009, penyair muda, Ullyl Ch mendirikan komunitas LAH, namun eksistensinya dalam berkehidupan kini semakin meredup. Entah oksigen untuk berkehidupan komunitas, diskusi, dan pergerakan-pergerakan kecil di Kudus, tidak ada? Namun, kemarin minggu malam (29/9) inisiasi dilakukan oleh beberapa pemuda yang menamai diri Komunitas jeNANG.
            Dengan dana seadanya, tanpa bantuan pemerintah, dewan kesenian, komunitas jeNANG berhasil menciptakan sedikit oksigen untuk para pelaku karya seni dan sastra di Kudus. Berkat literasi yang dilakukan komunitas jeNANG dengan beberapa komunitas di Kudus, yakni, Komunitas Saung Tawon, LPM Paradigma, dan Teater Satoesh akhirnya agenda diskusi komunitas jeNANG, bedah puisi yang kedua kali ini, Bedah Poeisi (Bepe) #2, bertajuk Malam Sekopi Sunyi di gedung PKM STAIN Kudus berhasil digelar.
            Malam, kopi, dan sunyi merupakan kata yang mempunyai pengertian yang beda namun  jika kita tarik ketiga kata tersebut, maka kita akan menemukan suatu hal yang sama diantara ketiganya. Begitulah perihal pertama yang dipaparkan oleh Dimas Indianto Sastro, Penyair asal Bumiayu, yang menjadi pembibir dalam menguak Malam Sekopi Sunyi. Bagus Burham, Direktur Komunitas jeNANG sekaligus pembibir, juga mengamininya. Selain itu, Pembibir ketiga yakni M. Rois Rinaldi, Penyair sekaligus Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Cilegon, ikut menghangatkan diskusi.
            Pada suasana yang hangat diskusi dijedakan untuk melihat penampilan Ali Reagge dengan musikalisasi puisinya. Dilanjutkan dengan pembacaan cerpen dari Anto, anggota LPM Paradigma. Setelah dua penampilan tersebut akhirnya sesi Malam sekopi Sunyi berbicara dimulai oleh Arafat AHC (Penyair Demak, jeNANG) dengan membacakan puisi “Jogja, Benar Engkau”. Dilanjutkan pembacaan puisi oleh Sholichuddin Al Gholany (Penyair Kudus, jeNANG), Ullyl Ch (Penyair Kudus, LAH), Fahruddin (Penyair Jepara, Saung Tawon), Arini Septiyan Irawati (Penyair Kudus, KIAS Semarang), M. Rois Rinaldi (Penyair Cilegon, Dewan Kesenian Cilegon). Tak ketinggalan band duo Kudus U2-1 urun penampilan dan mengakhiri sesi penjedaan.
            Pada sesi kedua diskusi, Gus Dimas, sapaan akkrabnya. Ia mulai pembantaiannya dengan menyulut api penghangat puisi-puisi Ekohm Abiyasa, sang empunya Malam Sekopi Sunyi, dengan mengatakan bahwa puisi-puisi Ekohm Abiyasa ini seperti ada mantra di dalamnya ketika pembaca membacakan puisinya? Namun Bagus Burham tidak mau membantai puisi-puisi Ekohm, sebab setiap pembaca berhak memuji dan menggugat puisi kepada empunya. Ia rasa kapasitasnya bukanlah sebagai pencemooh, namun sebagai penikmat yang ingin mencari kenikmatan dari ampas-ampas puisi tersebut.
                        Diskusi ini sangat unik, bukannya pembaca menggugat empunya, malah menggugat pembaca lain juga. Pada lain waktu, Fahrudin juga berceloteh bahwasanya penyair bebas menuliskan apa saja semau penyair dan tidak ada yang bisa menggugat. Mendengar celoteh itu, Gus Rois dengan tegas dan mengingatkan kepada yang lainnya bahwa hukum wajibnya penyair dalam menulis puisi adalah mengetahui tata bahasa yang baik dan benar. “Bagaimana bisa seorang yang tidak mengetahui tata bahasa yang baik dan benar mau menulis puisi berbahas Indonesia yang baik dan benar?“ Tegasnya.
            Akhirnya Sang Empu Malam Sekopi Sunyi berkoar dan menanggapi beberapa penggugatan. Ia membenarkan Gus Dimas bahwa ia memang mengidolakan Sutardji namun ia lebih condong ke pendapat Gus Rois tentang puisinya malah lebih mirip Fanshuri, sebab Fanshuri juga salah satu idolanya. Juga ia meminta maaf kepada Gus Rois bahwa ada beberapa kesalahan pada pencetakan juga pada dirinya sendiri dalam membaca ulang puisinya. Maka ia memutuskan bahwa ini adalah penanda eksistensi kepenyairannya dan ia tetap dalam proses pembelajaran kepenyairannya.
            “Meminjam quotes Pramoedya, bahwa sepandai-pandainya seseorang, selama tidak menulis maka ia akan mati dalam masyarakat dan juga sejarah. Terakhir quote dari saya, puisi adalah kehidupan itu sendiri” tutupnya selaku pembibir BePe #2 Special Malam Sekopi Sunyi. Disusul quote sang Empu, Bagus Burham, dan Rois Rinaldi.
            “Dalam diskusi ini, kita mendapatkan pelajaran bahwa seorang penyair itu bebas sebebas-bebasnya menulis puisi. Namun ia harus bertanggung jawab atas puisinya jika puisinya sudah ia publish kepada masyarakat. Penyair pula harus mengetahui tata bahasa yang ia pakai dalam puisinya, juga metafora, majas dan lain-lainnya agar pembaca tidak menggugat lagi puisi tersebut. Soal licensia puitika untuk saat ini merupakan suatu kewajaran seorang penyair dalam melukis dirinya dan untuk mengetahui perbedaan satu penyair dengan penyair lainnya, namun jika itu masih menjadi suatu persoalan pembaca, maka penyair harus bertanggung jawab untuk mensingkronisasikan perbedaan pemahaman itu. Terakhir, ini adalah penanda dalam sejarah kesusastraan Indonesia oleh Gus Ekohm, maka puisinya akan gagal bila pembaca tidak sampai pada maksud penyairnya. Namun puisi ini akan sukses bila pembaca telah sampai pada maksud penyairnya. Dan silahkan lihat Malam Sekopi Sunyi dengan sudut pandang kalian masing-masing. Biarkan puisi berbicara pada kalian masing-masing sesuai kapasitasnya masing-masing.” Tutup Arafat AHC selaku moderator. Berakhirlah diskusi kali ini dengan pembacaan Puisi oleh Sang Empunya, Ekohm Abiyasa. Setia.

Edisi VII | No. 6 | November 2013

Sumber http://gradasi-magz.sitekno.com/article/130153/penyair-kudus-dalam-malam-sekopi-sunyi.html

Makasih JPIN atas gambarnya.
* Terima kasih Gus Arafat Ahc atas infonya. Lemah teles! Salam buat para pegiat Sastra/Puisi di Demak, Kudus, Jepara dan sekitarnya. Terima kasih Gus Sholichudin Al-Gholany atas kebaikannya. Terima kasih banyak. Semoga berbalas yang lebih banyak. Terima kasih buat apresiator. Salam.

Posting lainnya,
http://malamsekopisunyi.blogspot.com/2013/09/bedah-malam-sekopi-sunyi-di-stain-kudus.html
http://serampaikata.blogspot.com/2013/10/poto-poto-diskusi-bepe-2-malam-sekopi.html

Kamis, 26 September 2013

Bedah "Malam Sekopi Sunyi" di STAIN Kudus | 29 September 2013

MALAM SASTRA

Bedah buku kumpulan puisi "Malam Sekopi Sunyi" karya Ekohm Abiyasa

Tempat : Gedung PKM STAIN KUDUS
Tanggal : 29 September 2013
Pukul : 19.00 WIB
Pengulas : Dimas Indiana Senja (Penyair Purwokerto. Penulis buku puisi "Nadhom Cinta")

Menampilkan :
- Arafat AHC
- Fahrudin
- Bagus Burham
- U-21
- Teater Satoesh
- Dll

Presented by :
Komunitas sastra Jenang Kudus dan Saung Tawon

Didukung oleh :
LPM Paradigma dan Teater Satoesh

Sumber info.

Posting di facebook.

Serampaikata (foto selengkapnya)
BePe #2 Malam Sekopi Sunyi

Performance:
- Ali Reagge (Teater Komunitas Teater Satoesh)
- LPM Paradigma
- Arafat Ahc
- Sholichudin Al-Gholany
- Ullyl Ch
- Fahrudin
- Virgo Chan (Arini Septian Irawati)
- Muhammad Rois Rinaldi
- Ekohm Abiyasa (Pemain Malam yang kopi dan Sunyi)

Pembibir:
- Bagus Burham
- Dimas Indianto S
- M. Rois Rinaldi

Moderator: Arafat AHC

Presented By:
Komunitas jeNANG
Komunitas Saung Tawon
Teater Satoesh
LPM Paradigma

Thank's To:
Chipz Mirza Sastroatmodjo
Komunitas LAH
Dewan Kesenian Cilegon
Pondok Pena "Purwokerto"
KIAS IKIP PGRI "Semarang"
dan seluruh Pembaca yang Sunyi

terkhusus untuk STAIN Kudus

Sumber foto facebook Arafat AHC

Info serupa,
http://komunitasjenang.blogspot.com/2013/12/bepe-2special-malam-sekopi-sunyi.html

Berita di Majalah Gradasi Semarang,
http://gradasi-magz.sitekno.com/article/130153/penyair-kudus-dalam-malam-sekopi-sunyi.html
http://malamsekopisunyi.blogspot.com/2013/11/penyair-kudus-dalam-malam-sekopi-sunyi.html

Minggu, 08 September 2013

Resensi Malam Sekopi Sunyi; Puisi Tentang Kopi dan Malam oleh Yuditeha @Solopos edisi 08 September 2013

Puisi Tentang Kopi dan Malam

Judul : Malam Sekopi Sunyi (Kumpulan Puisi)
Penulis : Ekohm Abiyasa
Penerbit : Mozaik Indie Publisher, Malang
Cetakan/tahun : I/2013
Halaman : 90 halaman

Yuditeha, 
Aktif di Sastra Alit Surakarta

Postingan serupa di Serampaikata.

Selasa, 13 Agustus 2013

Malam Sekopi Sunyi @Manado

Malam Sekopi Sunyi @Manado
14 Agustus 2013

Trims tante Bella atas fotonya :)

Sumber gambar, satu - dua

Jumat, 19 Juli 2013

"Kopi, Hujan, Puisi, dan Kamu"

Makasih mbak Aida Vyasa fotonya lagi.

"kopi, hujan, puisi, dan kamu"
(26 mei 2013) reaksi dari puisi Ekohm Abiyasa, yang berjudul 'Malam'
https://twitter.com/aidavyasa/status/350371989833281536/photo/1

Foto Malam Sekopi Sunyi bersanding dengan Taman Sunyi Sekala, Kekasihku yang Lain

Bersanding dengan Taman Sunyi Sekala, kekasihku yang lain.
Balai Soedjatmoko, Malam Minggu, 11 Mei 2013. Foto oleh Aida Vyasa. Link here.
Untuk Malam Sekopi Sunyi (kumpulan puisi Ekohm Abiyasa 2004 - 2012).

#malamsekopisunyi #tamansunyisekala #niskala. Pertama kali baca kata pengantar di Malam Sekopi Sunyi, 'deg' sejenak berhenti degup. Tidak pernah menyangka seseorang akan menganggap sebuah Taman Sunyi sebagai kekasih --teman mengembara. Terima kasih, Ekohm... Tak disangka malam-malam sama-sama dilalui dengan badai kata, kopi, dan tentu saja, sunyi.
Foto oleh Aida Vyasa. Link here.

Selasa, 09 Juli 2013

Berpendar Bersama Pawon Sastra, oleh Indah Darmastuti

Malam Tiga Pendaran adalah salah satu ikhtiar Pawon Sastra untuk menghormati, merayakan dan memberi penghargaan intelektual serta kreatifitas penulis-penulis Solo. Pawon mewadahi, memfasilitasi mencoba memendarkan penulis-penulis Solo dan sekitarnya dengan mengenalkan dan membincangkan bukunya.
Pawon Sastra bekerjasama dengan Balai Soedjadmoko menghadirkan tiga pembicara untuk tiga penyair.  Malam Sekopi Sunyi, antologi puisi tunggal Eko Abiyasa diulas panjang lebar oleh Arif Yudistira. Merapuh, antologi puisi tunggal Nurni Chaniago dibahas lunas oleh Setyaningsih dan Bulan Sabit Petang Hari, antologi Puisi Ngadiyo dibahas tuntas oleh Nimas Dara. Lalulintas obrolan diampu Lasinta Arinendra dengan kata pembuka: “Bagaimana pun, ini adalah hari yang penting.”
Dihadiri sekitar 40 orang. Diawali dengan “Puisi adalah ingatan peristiwa.” Kalimat pendek yang disampaikan oleh Arif saat membahas Malam Sekopi Sunyi. “Bunyi bukan persoalan keindahan, tetapi makna dan pesan lebih menjadikan kopi sebagai puisi.”
Bagi Setyaningsih, ketika membahas antologi puisi Nurni Chaniago: “Merapuh adalah proses panjang. Kata me-rapuh akan mengalami sebuah proses ampuhnya bertahan, kala mengalami kondisi merindu, terluka, menunggu, mengenang atau berharap.
“Keseharian adalah puisi. Puisi tercipta dari mata-mata jeli yang melihat keseharian.” Apresiasi Nimas Dara terhadap kumpulan puisi Bulan Sabit Petang Hari. Sekalipun bagi Nimas, Ngadiyo memiliki bakat bagus sebagai penyair, namun dalam antologi itu, ia menganggap diksi dan bahasa yang digunakan Ngadiyo masih sangat biasa.
Malam dihangatkan oleh pembacaan puisi oleh masing-masing penyair. Ngadiyo, yang mengaku suka menuliskan puisi cinta dan mengangkat tema kehidupan pesantren dan khusyuk-nya membaca Qur’an malam itu membacakan dengan kocak-segar puisinya dengan judul: Kembali Kepada Al-Qur’an.
Saat membacakan puisinya, ia beberapa kali berhenti untuk sejenak memberi penjelasan perihal apa yang ia puisikan. Tak jauh beda dengan catatan kaki yang disertakan pada sebuah teks. Cukup menghibur dan malam menjadi segar oleh tawa. Sempat tertangkap: Astuti, Puitri Hatiningsih, Indah, Rio Johan dan Yudhi Herwibowo tertawa begitu lepas di sela-sela ia memotret, mendokumentasikan acara dengan kamera.
Eko Abiyasa membaca dengan pelan dan sendu sebuah puisi: Mengenang Murtijono (Beliau adalah kepala Taman Budaya Jawa-Tengah yang wafat pada 2012 lalu). Nurni Chaniago membacakan dengan vocal mantab dua puisinya: Memasak Kenangan yang Terlupakan dan Tikam Menikam Perang Keparat.       
Penulis Novel: Astuti Parengkuh, turut membacakan dan memilih puisi Nurni Chaniago yang berjudul: Kuingin Rajah Puisi di Tubuhmu. Dan memilih puisi Ngadiyo berjudul: Ingin Kukecup Cinta Bercahaya di Matamu. Sebuah puisi dengan ending mengejutkan: “Solo, The Spirit of Java”
Dalam diskusi itu, Indah Darmastuti bertanya: apakah motifasi para penyair saat menerbitkan puisi-puisinya dalam satu buku? Sebagai dokumentasi atau adakah hal yang ingin disampaikan secara khusus, atau sekadar menunjukkan eksistensi atau mengesahkan diri sebagai penyair.  Dari tiga penyair, rata-rata memberi pengakuan bahwa buku itu sebagai bentuk dokumentasi, selain ingin mencipta jejak dan menjaga ingatan, mengabadikan peristiwa. Selain pengakuan Ngadiyo bahwa buku puisinya terbit salah satunya karena terinspirasi oleh Lasinta.
Istiqaroh menyampaikan sedikit catatan untuk para pengulas (khusunya untuk Nimas dan Arif). Penyampaian yang tersendat, atau penyampaian yang kurang jelas. Baginya penting seorang pengulas mempresentasikan dengan jelas dan matang meskipun sudah ada makalah yang dicetak untuk dibaca.
Obrolan ditutup oleh Bandung Mawardi, mengulas kecil tentang obrolan dan ajakan moderator untuk: “Mari menulis puisi” yang langsung ia tolak karena ia lebih suka menulis essai.
Lagu sendu dari Toko Gramedia Slamet Riyadi penanda waktunya tutup telah terdengar. Peserta diskusi sempat sejenak mendengarkan dan menikmati. Dan tepat saat itulah, acara Malam Tiga Pendaran yang diadakan di Balai Soejadmoko pada Selasa 2 Juli 2013 pukul 21.30 ditutup.  Semua beringsut, ada beberapa yang meminta tandatangan pada para penyair, ada yang bergegas pulang namun ada juga yang masih berbincang di gelaran tikar.
Satu hal yang sangat dan selalu ingin kami sampaikan: terimakasih untuk Mas Sukidi yang selalu pulang paling akhir dan membuat beres tempat kami berdiskusi. Terimakasih untuk Balai Soejadmoko untuk tempat yang disediakan. Dan untuk para pengulas: terimakasih ilmunya. [ ID ]     

Sumber Pawon.

Senin, 06 Mei 2013

Catatan Pembaca oleh Moh. Ghufron Cholid

Apa yang menarik dari sebuh puisi? Mengapa puisi begitu dekat dan menyapa di hati? Walau penghargaan pada puisi lebih sedikit, puisi akan terus rekah serekah bunga sebab puisi adalah bahasa hati yang barangkali tepat dipilih untuk menyampaikan risalah hati yang kadang tak bisa diucapkan secara lisan.

Barangkali hanya lewat puisi, seseorang bisa lebih berani berkata apa saja, tanpa harus didekte pihak mana pun, barangkali hanya lewat puisi kerinduan, kenangan dan harapan lebih bisa dilukiskan. 

Ekohm Abiyasa, penyair Solo mulai merintis kepenyairannya secara mandiri dalam buku puisinya bertajuk Malam Sekopi Sunyi. Mengapa harus malam, kopi dan sunyi yang dipilih penyair sebagai judul bukunya? Alasan yang lebih tepatnya hanya penyairnya yang lebih tahu dan sebagai pembaca pun kita bebas mengurai lewat kacamata pandang atau pikir sendiri. 

Sebab dalam puisi tak ada tafsir abadi, semakin banyak tafsiran akan semakin kaya tentang keberadaan puisinya. Digugat atau mendapat pujian semua adalah bentuk bahwa karya itu lahir dan mampu mengusik perhatian.

Apalah guna karya bagus namun tak mendapatkan apresiasi, setelah tercipta langsung hilang ditelan masa, serupa kapas yang diterbangkan angin, tak memiliki arah tujuan.

Barangkali menjadi penyair memang bukan sebuah cita-cita yang jarang diungkapkan oleh tiap diri, baik memiliki niat menjadi penyair ataupun tidak, sejatinya Ekohm telah menjadi seorang penyair karena telah melahirkan puisi dari dansa-dansa jemarinya. 

Paling tidak penyair untuk dirinya sendiri, maksimal penyair untuk seluruh alam semesta beserta isinya. Pentingkah lebel penyair itu disematkan? Jawabannya ada pada masing-masing individu, sebab tak semua mau disebut penyair. Sebab tak semua siap dikatakan seorang penyair, barangkali bisa kita pahami, tugas penyair sangat mulia. 

Menebarkan cinta lewat puisi, merampungkan kembali serpihan-serpihan mimpi. Pemberian istilah penyair senior, penyair junior, penyair instan barangkali hanya pengkotakan yang membuat puisi menjadi ruang yang tak menarik lagi, jika tetap mempersoalkan sebuah lebel kepenyairan yang akan diterima. 

Ekohm telah memulai sejarah, Malam Sekopi Sunyi sudah lahir ke tengah-tengah pembaca serupa bayi yang harus diberi nama dan diperkenalkan siapa orang tuanya, walau tak semuanya melakukan. 

Jaman yang serba teknologi memberikan kesempatan pada siapa saja berkarya dan mengaku penyair, terlepas diakui atau tidak seleksi alam yang menentukan, lebih baik berbuat daripada diam menunggu sebuah keajaiban. 

Bersambung..

Sumber note's facebook Moh. Ghufron Cholid

*Moh. Ghufron Cholid - Madura

Kamis, 02 Mei 2013

Komentar dari Lucia Dwi Elvira



Kopi, hujan, puisi dan mantra ajaib
Menuju malam yang ghaib (Ekohm Abiyasa)

Pagi ini saya mendapat kiriman buku puisi 'Malam Sekopi Sunyi' dari pengarangnya sendiri, mas Ekohm.

Dalam buku puisi yang bertema -sesuai judulnya- malam, kopi, dan sunyi membuat pembaca terhanyut dalam jalinan kata-kata yang dirangkai penyair asal Solo ini. Mantap pokoknya.

Di buku ini juga ada beberapa ilustrasi yang cukup ciamik yang ternyata adalah karya saya sendiri. (Narsis mode on) hehehe...

Di antara puisi-puisi yang ada di buku ini, favorit saya adalah Malam (yang saya tulis di pembuka postingan ini), Sekopi, Empat Sajak buat Pemburu Kata dan Pelarung Sunyi (puisi untuk Jeni Fitriasha), Ruh tubuh, dan Sepi Selalu Tahu Cara Mendengungkan Sepi (Puisi untuk saya sendiri #lagi-lagi narsis)

Yang mau tahu bagaimana memikatnya puisi-puisi mas Ekohm dan bagaimana ciamiknya ilustrasi saya segera dapatkan buku ini di Mozaik Indie Publisher. (bantuin promosi :)

Sekian dari saya. Salam SABUDI

Puisi selalu tahu cara mengobarkan sepi, katamu.
Sepi selalu tahu cara mendengungkan puisi, kataku.
(Ekohm Abiyasa)

Kamis, 02 Mei 2013

Sumber Facebook Uchi

*Uchi - Gresik, Jawa Timur

Rabu, 01 Mei 2013

Puisi-puisi Malam Sekopi Sunyi

MALAM

kopi, hujan, puisi dan mantra ajaib
menuju malam yang ghaib

Jakal KM 14 Yogyakarta, 03 November 2012


Sajak Kematian Matahari

pagi
angin berhembus dingin
gemuruh mesin kendaraan memanggil bising
matahari mencuat menerkam mata yang masih pekat, mimpi-mimpi sunyi

siang
angin berhembus sepoi
mencari teduh bayang-bayang
nyanyian kehidupan mengalun di pelataran
sekerat tekat dan keberanian
matahari mencabik, mengkristalkan keringat

sore
angin berhembus menentramkan
jejak-jejak kaki menapak di pantai
menjelang kematian, matahari mengantarkan kita sampai di sini
pulang ke rumah abadi

malam
angin berhembus muram membaca tanda-tanda temaram
tiba-tiba kita berhenti tertawa
kita lupa jalan pulang

Karanganyar-Solo, 27 November 2010


Pencuci Malam
: pencari sunyi yang berkawan dengan aroma kopi

berapakah malam yang kau pinta
hujan yang turun adalah penyeduh ilusi
berapakah sunyi yang kau rupakan?
gerimis adalah penggoda malam-malam kesepian

sebuah tempat dan sunyi kau rebus demi dahaga yang menahun
dalam kotak-kotak kamar
hitam dan putih membelah halaman rumah tua

berderet tebal halaman buku
di atas rak meja masih tertata juga
belum sempat menguliti isi dari pada daging
kita, segumpal daging
seonggok dosa dan doa mencekam
sesudah menyeduh teh panas atau kopi yang membarakan jantung
sebatang demi sebatang jadi asap lenyap di udara begitu saja
kamu kumandangkan larik-larik resah dan bungah
berharap pada tangkai-tangkai yang bertumbuh
jadi buah-buah rindu
pada siapa kau akan menjaga dan meminangnya?

Jakal KM 14 Yogyakarta, 01 Mei 2012


Kerikil-kerikil Pencerah
: Firdaus Septyan Luthfy

temaram jalanan Yogya mengantarku pada bait kesekian kisah hidup
perjalanan yang melelahkan
temanku, si hati yang gelisah
kemana lagi kerikil hidup ini akan menancap
hidup adalah engkau melempar sebuah dadu dan kau jadi pucat pasi
bukankah ini skenario kehidupan yang mesti dikunyah dan ditelaah

jangan enggan untuk mendekat
mencapai kesejukan batin yang engkau harap
bait-bait derita masih menunggu di halaman sunyi

kerikil-kerikil membawa pada pencerahan hidup
seperti bunga yang rajin menarik lebah berdatangan

Yogyakarta Undercover, 27 Oktober 2012


Catatan:
Dimuat buletin Pawon Sastra Solo, edisi #37 tahun VI/2013.


Sepucuk Pagi dan Mimpi Beku

/1/
merengkuh riuh napasmu
hati yang membelukar
semak semakin liar

ombak menepi di lautmu yang cemar
perih
rindu pun retak

aku merindu kisahmu yang hingar
merangkumnya di belantara dunia yang berkelakar
semakin derap kusapa bayangmu

kapal telah lepas jangkar
dan dadamu membekas memar

Ruang Maya,
Jakal KM 14 Yogyakarta, 28 Desember 2011


/2/
jadi tentang dingin rindu
yang
ketika kau buka pintu
udara berhembus sejuk
di dadaku
dan
pula kisah semalam
ada geletar darah yang menggebu
ini makin membunuhku
rindu pilu

Ruang Maya,
Jakal KM 14 Yogyakarta, 10 Juni 2012


Mimpi, Rindu dan Perjalanan yang Memabukkan

bertautan berkali, mati sendiri akhirnya
pucuk-pucuk mimpi dan sunyi
menggelembung kekal seperti balon udara siap terbang berkelana udara utara
ia berjalan kembali

bersakit meski
mati pula nantinya
geregetan melihat rona pelangi suka mempermainkan hati
di ujung perjumpaan
oleh sebab ketiadaan ia menghilangkan jejak-jejak yang sempat tertaut

beranda hampir musnah sekali
ketika mengingat bayang itu mencabik luka
temaram semakin gelap dan tersamarkan oleh nyali
ketakutan dan kekawatiran menjadi hidangannya
udara semakin keruh oleh kata-kata
tulisan dan nama-nama yang terpampang pada buku-buku tebal berhalaman api
tertekan oleh maut yang mengintai
derap darah yang membercak kentara
sendirian ia akan mengarungi halaman-halaman sunyi
mencoba hal-hal yang belum terpikirkan dan termimpikan olehnya
sebab udara kian jauh bila tak harus bersua
oh, kotak ini terkunci rapat sekali

sudah cukup perjumpaan ini
wajahmu pasi hai purnama
masih ada sisa waktu dan napas dalam perjalanan nanti
boleh aku berpamitan sejenak, merampungkan hening rindu dan kata-kata
sisa malam berangkatlah mencari sekerat daging yang terpisah dari jiwa
dan anggur-anggur memabukkan jati diri
o, malam dingin begini

Jakal KM 14 Yogyakarta, 09 Juni 2012


SEKOPI

sehitam kopi menjamahi malam
menuju kopi rindu yang hitam

Ruang Maya, 07 Juni 2012


Seperti Ampas Kopi

segelas kopi selesai kubikin
menyesap rindumu kuingin
seperti panas kopi ini
mengulang-ulang rindu yang makin mendaki

separuh waktu mungkin
kuhabiskan sisa-sisa napas dalam padang luas

berapa waktu yang akan kau beri?
betapa rindu mengendap seperti ampas

Jakal KM 14 Yogyakarta, 16 Maret 2012


Dalam Cangkir

rasanya ingin menggunting jarak
makin tunas rasanya, rasa yang ada
rindu yang terjalin mengerat dan berat

memindahkan tubuh pada ruang sunyi lagi
di beranda berpetak
meminjam nada-nada dan suara-suara yang disuka
kemudian mengalun dan bersenandung sendiri
selagi senja menghangat

dirimu teraduk dalam cangkir senja yang membumi
secangkir kopi dan imajinasi
kusesap dalam-dalam
dan rindu bertebaran memenuhi warna pelangi di kejauhan

Jakal KM 14 Yogyakarta, 12 April 2012


Tentang Metafora Birahi Laut
: Dino F. Umahuk

lembar demi lembar
mengayuh asin setiap goresan yang tercetak
beribu kata rapi tersusun
menghimpunkan sunyi Metafora Birahi Laut
tentang perjalanan seorang anak bahari berpagarkan rindu dan ombak-ombak

lembar demi lembar
meresap kata-kata yang tak mampu kutenggak
menjadikannya tulang sumsum dan tombak

angan dan imajiku setia berlayar di halaman-halamanmu
setiap rekahan kata-katamu adalah penegak
memburu nasib dan rasi di langit utara

Karanganyar-Solo, 28 Agustus 2008


Birahi

tubuh kita adalah puisi
bertautan dalam kepul asap secangkir kopi

kita sering melukis pelangi
dengan ampas kopi sisa senggama

mataku beradu matamu
seperti mug atau cangkir yang selalu rindu panas kopi

derai malam menjadi saksi terlalu bisu
untuk kemenangan kita mendaki birahi

Sukoharjo-Solo, 06 Desember 2012


SUNYI

sunyi tak beratur ini
sepertinya masih ingin mempermainkanku saja
aku ingin membunuhnya
sekali saja
menuju kesunyian abadi

Karanganyar-Solo, 24 April 2009


Riwayat Sunyi

riwayat yang hilang dan setumpuk catatan usang menggenangi mata
berserakan!

kertas-kertas dan abu bekas pemujaan semalam
tentang dunia ilusi yang melenakan
batu-batu bersimbah tinta
mengarsir sendiri pada nganga luka
semua ada catatan meski tiada berguna lagi
namun, mungkin nanti ada saatnya membuka kembali sejarah dan riwayat-riwayat itu
setelah sekian tahun terpendam dalam tanah liat dan gersang gurun berpasir darah
kembali pada jalan masing-masing guna menghisap dosa dan kesalahan
persembahan tak akan sia-sia meski telah dicampakkan

karena kita manusia
kita manusia

membekukan dan mencairkan
setiap kenangan adalah makna
saling bercerita satu sama lain
apakah yang kau punyai selain cinta yang semu belaka
dan apa pula yang aku bisa selain kesetiaan tiada tara
meski pula terkalahkan
mungkin hanya bualan saja
tak perlu ada usap derai air mata atau malah menertawakan kebodohan diri
seumpama rumput itu berhenti bergoyang
buat apalagi tumpahan cerita
kubuang saja dalam tong sampah biar membusuk lekas
duka yang luas, luka yang panas

lekas
lekas bias
lekas ampas

kembali membekukan kenangan dan air mata
matahari tiada lelahnya menertawakan kesendirian
boleh aku pinjam bahumu sejenak saja
ada racun di mataku, silau dan bercak bergantian

ah, robek saja mukaku
aku (tak) pernah mati
menyertaimu dengan segumpal kesetiaan

Jakal KM 14 Yogyakarta, 01 Juni 2012


Pualam Sunyi

rindu ini legam hitam
searoma dengan kopi
yang mengepul asapnya

cinta ini keras pualam
sekawan dengan batu-batu sunyi
yang memiliki keteguhan dari marabahaya

Jakal KM 14 Yogyakarta, 30 Juli 2012


Merapu Sunyi
: Murtidjono

sisa-sisa hening ini aku merapu sunyi
juga bekas jejak yang engkau tanam di tanah merah
mencaduk pesan-pesan yang engkau kirim
dalam kerlap malam jua aku bersungut memaknai semua yang kau perankan
atas segenap kisah manusia
engkau hidup terus mengalir
menguliti jalan sunyi
bahwa puisi bukan pula hal modular
yang membuat kita hanya puas terkapar begitu saja
berhenti pada titik langkah
tidak juga engkau menjadi pandik
itu yang kutangkap dari senyum senjamu

di halaman, kosong oleh rerintik air hujan
debu-debu beterbangan beradu langkah dengan cengkiak
betapa muram tanah-tanah ini
aku semakin tak mengerti

kukira maukuf saat ini
betapa pula aku ceroboh mengartikan sampaian
pesan-pesan yang engkau tawarkan
yang engkau pentaskan

namun masih ada waktu buat berkelana
akan kutautkan rindu di penghujung malam
menyegel pintu-pintu asing
berukup tepat di tengah sunyi hitam
tingkar pikiran dan kepala dengan berjuta huruf yang berderet-deret di sekeliling

engkau hidup di kedalaman makna
hingga hilang sudah sunyi menjadi embun
maserasi fajar menggertak aorta
dan mata-mata yang malas enggan beranjak
memuncak tinggi di nirwana

Jakal KM 14 Yogyakarta, 27 Maret 2012


Catatan:
Termaktub dalam Arisan Kata-17


Memesan Sunyi

kemudian mengguling-guling memesan sunyi
suara parau dari lubang hidup yang tertera di dahi
mengejang pekat rerumputan bergidik
merdu lirih kau sampaikan salam pada angin
dan suara-suara masih serak

kau titipkan juga segepok rindu dalam kepul asap yang tertiup
tak ada alasan untuk menggelengkan kepala

oh, marilah kita memesan sunyi lagi
aku rindu memegang akar yang menjuntai dari kepalamu
aku tanam dalam kerut dada yang kasat

oh, marilah kita menenggak aroma keheningan lagi
aku resah menggapai tangan yang terkulai ingin  memelukmu
di ujung sesuatu, yang aku ragu menyebutkan nama apakah yang tepat

dan suara-suara masih serak
aku pun demikian menitipkan jua segepok rindu dalam kepul asap yang tertiup
tak ada alasan untuk menggelengkan kepala

Karanganyar-Solo, 06 September 2011


Melankoli Penikmat Sunyi

segumpal asap dan melankoli penikmat sunyi
hidup bukan lagi soal kata-kata belaka gih
ada garis lain yang terbujur menanti
dalam spektrum hitam dan putih*

sekerat daging dan tumpukan ludah
semakin pudar gelap dan bias
urusan rejeki bukan soal mudah
mesti berpayah tanpa menyerah lekas

Jakal KM 14 Yogyakarta, 19 Juli 2012


Catatan:
* Meminjam dalam lirik lagunya Koil, Kenyataan dalam Dunia Fantasi


Mawar dan Melati, Semerbak Sunyi

/1/
ketika matahari telah lenyap, hasrat keluar
tidak setiap hari, terkadang saja bila kata-kata dan sumpah serapah memenuhi kepala
berhamburan bagai anak panah yang melesat
menghitamkan ruang sunyi

ketika bayang-bayang telah pekat
nyala lilin kemerlap memenuhi ruang kosong
samar-samar setangkai mawar terlihat
kurawat dan kujaga dalam gemuruh jiwa temaram

tumbuhlah!
aku rindu aroma darahmu menenggelamkan sunyi
lilin membakar diri
ruang semakin sunyi dan aroma anyir merambati tubuhku

Karanganyar-Solo, 29 Oktober 2010


/2/
semerbak melati sunyi di ruang kelana
beranda patah yang terjaga
romantika sepasang kekasih

berjelaga kian muram di tepi hati yang bersemi

rintik hujan membawa beberapa larik rindu
pada tebal bibir seorang pemanggul kata
ia taburkan sedikit kisah pada hidupnya
melati sunyi yang ranum

wajahnya mengental dalam hati
waktu berapa lama ia akan terjaga
menjaga yang ia cinta

duhai pemanggul kata
ikhlaslah memeluk erat
pertapaan rona jingga yang kian berat kala matahari berpendar cahaya
yang sunyi beralamat pada hati seorang saja
dia,
melati sunyi yang kurindu dan kunantikan suatu saat

Karanganyar-Solo, 30 April 2012


Taman Telah Sunyi

menghitung deru napasmu
berhamburan setiup-setiup seperti semerbak bunga taman beterbangan di udara
penuh seluruh memandang

tak ada lagi cerita-cerita tentangmu
yang seperti drama sinetron, katamu

kutunggu deru jejak di jalan itu
yang sering kita lewati bersama ketika senja menghangat

detik-detik habis pula kisah
taman telah sunyi
tiada lagi kudengar napasmu menggelora di telingaku
senja telah menggigil
pada ruh yang terpanggil
tak ada perkabungan
tak ada bunga kamboja sebagai pemisah jarak antara aku dan hasratmu

Karanganyar-Solo, 30 Oktober 2010


Catatan:
Dimuat Solopos, edisi Minggu 15 Mei 2011


Mencari Guru Sejati

/1/
dalam darah, dalam darah

mengalir suara-suara
sunyi menghantarkan detak yang berirama
jiwa merebah

dalam darah, dalam darah

Karanganyar-Solo, 25 Juli 2009


/2/
untuk kesejatian diri
sekerlip temaram

dalam sunyi

untuk mengadu hati
seluruh malam
sisa-sisa penghabisan

dalam relung hati yang kian terjal menelusuri eksistensi

Karanganyar-Solo, 03 Juni 2011


Ruang Sunyi, Distorsi Rindu
: Ibnu Purdiavril Nugroho (Sinyo April)

serupa apa rindu yang kita buat
bermalam-malam sunyi kadang kita renggutkan denting-denting sunyi

dan kepul asap secangkir kopi yang melekat
kita anyam puisi yang merona
di dalam rongga dada yang kasat

Ruang Maya,
Karanganyar-Solo, 25 November 2011


Sepi Selalu Tahu Cara Mendengungkan Puisi
: Lucia Dwi Elvira

puisi selalu tahu cara mengobarkan sepi, katamu

hujan yang bersendawa
menguliti rindu berkeping
di antara kesunyian mata kita
jiwa-jiwa terkikis beralaskan hening

dan datanglah para perangkai kata-kata, katamu

penabur sunyi
paling puisi

sepiku adalah sepimu
rinduku adalah rindumu
di gigir rona jingga berpadu
meruntuhkan dingin rindu beku
selama kita hening menuju

pada getir malam yang semakin mengendapkan ruang semu

puisi selalu tahu cara mengobarkan sepi, katamu
sepi selalu tahu cara mendengungkan puisi, kataku

Ruang Maya,
Jakal KM 14 Yogyakarta, 24 Oktober 2012


Bait Sunyi Perajut Kata

lebih deru mana cinta semu dan anggur yang memabukkan
hatinya menginginkan sebuah cinta dari adinda
sementara ada cinta bertepuk sebelah tangan
maka ia memilih anggur-anggur itu dari pada ia buta

lebih syahdu mana lagu romantika dan bait-bait sunyi perajut kata
tangannya menginginkan ketersampaian rindu-rindu hitamnya
sementara ada hati lain yang mencoba memikatnya
maka ia memilih jalan sunyinya sendiri tanpa ruh sang kekasihnya

Jakal KM 14 Yogyakarta, 16 Juni 2012


Kesunyian Ini Abadi

mencari mata
mencari pelangi
lama berjalan, bertepian
menyusur debu-debu dunia sunyi
merasakan api
merasakan beku

berdenyut nadi, mengalir maki
serupa lahar menuju laut mati
takkan kulepaskan walau sejenak
biarkan mereka tertawa terbahak

denting lonceng malam
hampa dan ingin bercerita
seolah ada deru cinta yang menggebu dalam dada

bahagia mana, lagu-lagu sunyi yang dipuja
dan gelap cinta buta
hampa dan mengulang cerita
segenap kesedihan menumpuk sesak di dada

Jakal KM 14 Yogyakarta, 17 Januari 2012


Adakah Sunyi Lagi

semalam sunyi mengepung diri
pada keping sunyi
hampir hilang
jejakmu selalu terpatri
senyummu abadi

serona ini
senja menyapa lagi
di kebalauan petang
semakin rindu lagi
semakin sirna diri

Jakal KM 14 Yogyakarta, 30 Mei 2012


Kesunyian Ini Masih Milik Kita

"…nasib adalah kesunyian masing-masing”. (Chairil Anwar)

mari berselancar dalam panas secangkir kopi
mengentalkan keringat malam (pagi) ini
menitis embun di ufuk fajar nanti
mengunyah nasib masing-masing yang berjejal dalam birahi

Karanganyar-Solo, 13 November 2011

Sabtu, 27 April 2013

[SOFT LAUNCHING] Buku Puisi Malam Sekopi Sunyi


[SOFT LAUNCHING] Buku Puisi Malam Sekopi Sunyi

Hari : Minggu, 28 April 2013
Waktu : Jam 9.30 WIB pagi
Tempat : Waduk Delingan, Karanganyar-Solo

Bersama Pakagula dan Sastra Alit.
-Andri Saptono, Agus Yulianto, Ekohm Abiyasa
-Yuditeha, Gatot Prakoso, Augusta (dalam konfirmasi)

Siapkan pena dan kertas. Selain diskusi puisi, kita juga akan bikin karya bersama (karya bebas sesuai minat).

^o^

Kamis, 21 Maret 2013

Ulasan Malam Sekopi Sunyi; Kopi dan Puisi oleh Arif Saifudin Yudistira

Kopi dan Puisi
Arif Saifudin Yudistira*)

            Kopi membuat matamu menyala, susu membuat matamu manja— Jokpin dalam Haduh, Aku di Follow(2013). Ekohm sepertinya memgamini sajak pendek dari Jokpin itu. Kopi adalah kosmologi untuk mendefinisikan malam, mendefinisikan kesunyian dan kesepian. Ratapan kebahagiaan, kerinduan, cinta, ataupun kegelisahan ada dalam kopi, dan malam hari. Dari sinilah kita bisa menyimak, bahwa kosmologi malam, kopi dan puisi tidak bisa dipisahkan begitu saja. Simaklah sajak berikut : kopi, hujan, puisi dan mantra ajaib/menuju malam yang gaib (Malam). Dalam puisi ini kita bisa melihat penyair tertib melakukan pencatatan dan sekaligus terjebak dalam urusan irama. Saya akan memilih menggubah puisi itu lebih cantik dengan seperti ini : kopi, dan puisi adalah mantra ajaib/ menuju malam yang ghalib(Malam). Terlepas dari hal itu, meminjam istilah dari Sutan takdir Alisjahbana yang menguraikan bahwa tepat atau tidaknya kiasan itu menjelma perasaan,selaras atau tidaknya ia dengan gerak kalbu, itulah yang memastikan keindahan syair(Alisjahbana, 1977:25).
            Urusan kopi, malam dan puisi barangkali adalah kesatuan ritmis yang indah bila dipadukan dan diresapi oleh penyair. Malam adalah doa bagi lahirnya imajinasi dan mantera. Eko mencatat kesunyian dan perasaan itu dalam malam-malam yang menggunakan kopi sebagai pintu masuk. Sekopi : sehitam kopi menjamahi malam/ menuju kopi rindu yang hitam.  Puisi-puisi eko bisa dilihat sebagai tangkapan dan rekaman jejak perasaan penyairnya yang cenderung belum mau keluar dari aku internal. Yang oleh Dian disampaikan dalam catatannya, akan tetapi bila Eko mau sedikit bersabar dan melakukan permenungan lebih dalam, ia akan menemukan cinta dan puisi itu adalah kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Sebagaimana yang ada dalam novel The Various Flavors of Coffee, rasa cinta dalam kopi yang mengutarakan betapa nikmatnya mencercap kopi dan cinta secara bersamaan. Ini tak hanya tentang kepekaan dan kenikmatan, tapi juga tentang kedalaman pengalaman. Pengalaman sangat penting dalam mengembangkan bahasa lengkap untuk rasa, dan pemahaman utuh tentang banyak nuansa rasa yang bersembunyi di latar belakang bau pada umumnya, dan sensasi rasa khusus yang kita kenal sebagai kopi. Memperoleh pengalaman seperti ini butuh waktu. Tidak ada jalan pintas.—Lingle, The Coffee Cupper’s Handbook (hal.534).
            Begitupun dalam puisi, rasanya tidak pas bila kita melakukan jalan pintas untuk urusan membuat puisi. Meski demikian, saya tidak mengatakan puisi Eko adalah sebuah jalan pintas tentang kopi , malam dan puisi. Kita bisa menyimak sajak yang bagiku adalah puisi yang matang. Tubuh kita adalah puisi/bertautan dalam kepul asap secangkir kopi/ kita sering melukis pelangi/ dengan ampas kopi sisa senggama(Birahi). Puisi ini saya pikir cukup untuk menjelaskan betapa keliaran imajinasi penyair bertaut dengan aku “internal”. Sayang sekali Eko seperti tak mau puas, ia tambah larik dibelakangnya yang menurut saya mengganggu. Puisi tak harus panjang, sebab kiasan itu bertaut erat dengan perasaan. Bisa jadi adalah kecerobohan bila kita menggunakan kata untuk memenuhi keindahan dan ketertarikan kita pada diksi dan bunyi. Diksi dan bunyi tanpa dipadukan dengan perasaan bagi penyair adalah musuh untuk menghidupkan jiwa puisi itu sendiri.

Godaan atau Kecerobohan
            Diksi, bunyi, dan ketukan adalah godaan sekaligus adalah kecerobohan dalam berpuisi. Ia bisa jadi membuat puisi menjadi semakin cantik, unik, dan menarik. Tapi bisa jadi ia justru membuat hambar. Saya tak mencoba mengatakan ini adalah urusan selera, sebab kedalaman perasaan bisa kita miliki bersama. Meminjam istilah dari penyair kelahiran Skotlandia Robert Louis Stevenson yang mengatakan : “sisi lemah dari puisi terletak pada keteraturan ketukan, yang didakwa kurang impresif ketimbang pergerakan prosa yang mulia; dan hanya disisi lemah ini, dan hanya di satu ini, para penulis ceroboh kita terperosok”.
            Dalam kumpulan Malam Sekopi Sunyi ini, saya kurang bisa menikmati keteraturan ketukan itu, seperti yang ada dalam puisi berjudul Seperti Ampas Kopi : segelas kopi selesai kubikin/menyesap rindumu kuingin/seperti panas kopi ini/mengulang-ngulang rindu yang makin mendaki. Atau dalam puisi Pualam Sunyi : rindu ini legam hitam/searoma kopi /yang mengepul asapnya/cinta ini keras pualam/sekawan dengan batu-batu sunyi/ yang memiliki keteguhan dari marabahaya.
            Sekali lagi urusan ketukan tak hanya urusan keindahan, tanpa dipadu dengan perasaan dan kedalaman, kopi dan puisi bisa jadi pahit sekali. Tapi dengan perasaan, dan kedalaman kopi bisa jadi manis dan bertabur keindahan dan cinta. Puisi Eko adalah rujukan dan pijakan bagi kita yang ingin mencipta puisi bersama kenikmatan malam bersama secangkir kopi. Mungkin.

*) Pengulas adalah Santri di Bilik Literasi, Penyuka Puisi

Rabu, 20 Maret 2013

Pembelian atau Pemesanan Buku "Malam Sekopi Sunyi"

Genre : Fiksi-Kumpulan Puisi
Penulis : Ekohm Abiyasa
Desain sampul : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Mozaik Indie Publisher (April 2013)
Tebal : 102 hlm, 13×19 cm
ISBN: 978-602-17659-9-9
Harga : Rp 30.000,-

Untuk pemesanan silahkan sms ke: 0857 496 54481
Format sms: judul buku_jumlah eksemplar_nama_alamat lengkap

http://mozaikindie.wordpress.com/2013/04/02/launching-malam-sekopi-sunyi 


* * *

Puisi, salah satu bentuk prosa yang mempunyai keistimewaan tersendiri. Baik dari cara penulisannya maupun cara menikmatinya. Menulis puisi dibutuhkan intuisi dan kepekaan rasa yang tajam, sang penyair harus mampu menyampaikan pesan dari buah karyanya tersebut dalam diksi yang indah dan jumlah kata yang terbatas. Penyair yang hebat bukanlah yang jago bermetafora setinggi langit, namun yang mampu melarutkan pembaca dalam bait-bait puisinya meski dengan bahasa yang sederhana. Pun cara menikmati puisi juga dibutuhkan kepekaan rasa agar mampu menangkap arti dari tiap bait yang tersusun dengan indahnya.

Sayangnya keistimewaan tersebut ibarat pisau bermata dua. Tak banyak orang yang tertarik untuk menulis atau menikmati karya puisi. Akibatnya, puisi seperti sedikit tersisihkan dari hingar-bingar dunia literasi. Itulah sebabnya kami salut dan acungkan jempol untuk sang penulis, di usianya yang masih tergolong muda Ekohm Abiyasa berani meluncurkan sebuah kumpulan puisi sebagai debut perdananya di dunia sastra.

Malam, Kopi dan Sunyi. Tiga kata berlainan jenis namun memiliki keterkaitan yang sangat erat. Malam merujuk pada keterangkan waktu, kopi sebuah kata benda, sunyi menerangkan keadaan. Bagi orang-orang yang biasa begadang tentu tiga kata itu sudah menjadi teman setia mereka. Sang penulis dalam kata sambutannya mengatakan: "Buku ini kupersembahkan buat para penikmat kopi dan malam-malam sunyi. Semoga kalian semakin bergiat diri mencari sunyi di sela-sela ampas kopi."

Semoga dengan kemudaan usia dan gaya bertutur sang penulis, buku bertajuk Malam Sekopi Sunyi ini mampu lebih mengenalkan puisi kepada generasi muda. Dan bagi penulisnya, semoga menjadi jalan pembuka dan penyemangat untuk terus berkarya.

Proses Kreatif Pembuatan "Malam Sekopi Sunyi"

Malam Sekopi Sunyi. Sebagian besar aku menulis puisi pada waktu malam hari. Sekopi bisa diartikan, satu kopi. Satu kopi yang pahit(mungkin) akan membawamu pada hitam sunyi malam. Membawa imajinasimu tentang apa yang akan engkau tuliskan. Mungkin sebuah dekonstruksi atas kopi. Atau yang lainnya, silakan berpikir. Aku hanya memilih kata yang tepat saja menurut kepalaku. Sekali sudah itu berarti. Sebagian besar puisi Malam Sekopi Sunyi saya buat di Yogyakarta, di mana aku sempet tinggal di Jakal (Jalan Kaliurang) beberapa waktu.

Ide pembuatan buku atau nerbitin buku puisi bulan Oktober 2012. Lumayan lama juga ya. Tidak mudah dan tak gampang juga. Hanya perlu ketekunan dan kesabaran. Itu saja.

Editing
Proses editing kukerjain sendiri. Yah, belajar sendiri bagaimana mengedit naskah. Pasti terdapat banyak kesalahan. Belajar dari apa yang pernah kubaca dan perhatiin dari beberapa buku yang pernah kubaca.

Kover dan Layout
Proses pembuatan kover dan layout oleh mas Yudhi Herwibowo. Kover yang manis menurutku. Terima kasih banyak buat mas Yudhi atas bantuannya. Kover dan layout. Dan beberapa masukan serta bimbingannya.

Ada masukan dari pak Harsono Sapuan (pelukis Yogyakarta) mengenai kover. “Gimana kalo letak cangkirnya ditukar dengan letak bulan. Pasti akan lebih menarik”. Karena itu tidak biasa. Orang akan berpikir ulang apa yang akan dibacanya dalam buku ini. Seperti mengaduk-aduk rasa penasaran. Oke, itu adalah masukan yang bagus. Dan aku suka ide tersebut. Namun aku tak ingin merepotkan terlalu banyak mas Yudhi. Jadi ya sudah, itu saja kovernya. Ga perlu diubah lagi. Kedepannya aku rasa perlu belajar dan bertanya pada pak Harsono soal komunikasi visual atau segala hal tentang seni terutama gambar(lukis).

Untuk gambar cangkir kalau dibikin agak gelap ada bayangan gitu pasti lebih pas.

Ucapan terima kasih
Ucapan terima kasih saya haturkan:
  1. Allah swt dan Kanjeng Nabi Muhammad saw
  2. Mbak Aida Vyasa atas bukunya Taman Sunyi Sekala (2006) yang menginspirasi buat menulis lagi. Dan terlebih mendorong keinginan untuk menerbitkan buku. Banyak sekali kata-kata dan kalimat yang menyemangati untuk terus berkarya. Terutama menulis. Anda bisa menemukannya di novel Taman Sunyi Sekala (2006). Silakan baca saja.
  3. Mas Yudhi Herwibowo atas kover dan layout-nya.
  4. Rozi Kembara atas beberapa koreksi dan masukannya. Meski sempet goyah untuk mengganti judul buku, aku tetap memakai judul awal. Thanks bro.
  5. Para pengendors: Pak Joko Pinurbo, Mbak Aida Vyasa, Mbak Puitri Hati Ningsih, Pak Mashuri, Mas Gunawan Tri Atmodjo, Sartika Dian Nuraini, Btara Kawi, Jeni Fitriasa, Muhammad Asqalani eNeSTe dan cak Moh. Ghufron Cholid.
  6. Pawon Sastra Solo yang telah memberi banyak pelajaran berharga. Mendapat teman dan pengetahuan yang banyak tentang dunia sastra.
  7. Pak Mardi Luhung yang telah menyemangatiku dan menginspirasi untuk berkarya, baik secara tidak langsung maupun langsung.
  8. Pak Harsono Sapuan.
  9. Luchia Dwi Elvira atas gambarnya.
  10. Temen-temen komunitas Bengkel Sastra Surakarta.
  11. Musayka Reviros atas kata-kata ajaibnya, SABUDI (Sastra Budaya Indonesia).
  12. Dan sesiapa saja yang telah membaca dan memperhatikan Malam Sekopi Sunyi.


Salam SABUDI
(Sastra Budaya Indonesia)

“Mari kita jaga bersama!”


Ekohm Abiyasa